Minggu, 24 April 2011

Mengatasi kemiskinan di Indonesia



Ada sebuah anekdot mengenai “kemiskinan menurun.” Kedua kata ini biasa dipergunakan oleh Pemerintah untuk menggambarkan bahwa angka kemiskinan itu turun. Tetapi oleh kaum awam, kedua kata ini dipakai untuk menggambarkan bahwa kemiskinan itu diwariskan. Kalau kakeknya miskin, maka ayahnya juga miskin dan anak-anak mereka pun juga miskin. Berarti jumlah kemiskinan itu bertambah.
Lalu, bagaimana cara untuk mengatasinya? Ada yang bilang caranya yaitu dengan memberantas semua faktor utama dari penyebab kemiskinan itu. Nah, tulisan ini mau membahas faktor-faktor tersebut dan bagimana mengatasinya.
Sebagai penyakit sosial, kemiskinan memiliki penyebab yang larut dengan berlalunya sejarah. Kemiskinan telah berakar ratusan dan bahkan ribuan tahun yang lalu. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari perbudakan, kolonialisme, peperangan, dan lain-lain. Itu sebabnya Phil Bartle PhD., dalam tulisannya berjudul Factors of Poverty – The Big Five, menyatakan bahwa kita tidak perlu menoleh ke belakang untuk mencari penyebab (cause) dari kemiskinan, karena kita tidak dapat mengubah sejarah, tetapi kita berpotensi untuk menghilangkan faktor-faktor kemiskinan (factors).
Cause adalah sesuatu yang berkontribusi pada awal terjadinya masalah seperti kemiskinan, sedangkan factor adalah sesuatu yang berkontribusi terhadap tetap berlanjutnya masalah telah terjadi (dalam hal ini kemiskinan). Menurut dia, ada lima faktor kemiskinan yang paling penting untuk diberantas, yaitu: keterbelakangan dalam pengetahuan dan informasi (ignorance), wabah penyakit (disease), ketidak perdulian / ketidak berdayaan (apathy), ketidak jujuran (dishonesty), dan ketergantungan (dependency).
Mari kita lihat keberadaan ke lima faktor kemiskinan di Indonesia, apakah kondisinya memungkinkan adanya dampak positif BLT, ataukah menjadikan pemberian BLT itu ibarat tindakan menggarami laut. Kita semua melihat sendiri bagaimana janji akan adanya sekolah gratis belum terlaksana sepenuhnya, bahkan semakin mahal dan semakin tidak terjangkau, bukan saja oleh rakyat yang melarat tetapi juga bagi yang berada di sekitar garis kemiskinan. Bagi yang mampu bersekolah pun tidak mendapat pendidikan yang berkualitas. Kita pernah membaca tulisan pengamat di bidang pendidikan yang mengatakan kualitas pendidikan di Vietnam pun sudah melampaui kualitas pendidikan di Indonesia.
Penyakit DB dan dan flu burung terus saja mewabah. Bahkan pembunuh nomor 1 dan 2, yaitu penyakit jantung dan kanker mulai banyak menyerang masyarakat berusia di bawah 40 tahun. Penggunaan bahan makanan sintetis, zat-zat pengawet dan zat-zat berbahaya seperti formalin dan borax yang diperkirakan dan bahkan dibuktikan memiliki hubungan langsung dengan kedua penyakit pembunuh ini tidak lagi dapat dikontrol peredarannya di masyarakat.
Kedua faktor kemiskinan ini sangat mungkin disebabkan oleh faktor ketiga yaitu tidak perdulinya dan atau tidak berdayanya pemerintah dan juga masyarakat. Mungkinkah penduduk dan persoalannya yang begitu banyak dan juga ruwet telah membuat kita semua apatis?
Faktor keempat, yaitu ketidak jujuran yang seharusnya merupakan satu-satunya dan yang terpenting yang bisa dikendalikan oleh Pemerintah pun tidak bisa ditegakkan. Ini baru berbiara mengenai Mafia Perpajakan. Korupsi di berbagai struktur pemerintahan tidak kunjung menyurut kalau tidak mau dikatakan justru meningkat. Multiplier effect tidak hanya berdampak positif, tetapi juga berdampak negatif. Oleh Phil Bartle PhD. dicontohkan apabila ada uang sebesar $100 dikorupsi maka social investment akan berkurang $400. Artinya dana BLT sebesar Rp.4,8 triliun tidak akan punya dampak apa-apa apabila terdapat dana sebesar Rp.1,2 triliun yang dikorupsi. Dari kasus-kasus korupsi yang terungkap saja jumlah itu sudah terlampaui, sementara menurut teori fraud, kasus yang telah diputus dipengadilan baru sekitar 20% dari jumlah kasus korupsi yang sesungguhnya.
Bagaimana dengan faktor terakhir, yaitu ketergantungan? Dibenak kita sudah tertanam kata-kata “Jangan beri ikan, tetapi berilah kail dan cara untuk memancing ikan.” Tetapi para pakar microfinance membuktikan melalui survey yang dilakukan di negara-negara berkembang bahwa kail pun tidak cukup, karena kail itu akan dijual oleh penerimanya untuk membeli ikan. Hal ini akan selalu terjadi selama faktor ketergantungan ini tidak terlebih dahulu diatasi. Banyaknya anggota masyarakat yang menuntut untuk kebagian BLT menunjukkan tidak dimilikinya harga diri. Tetapi bagaimana mengatasi masalah ini apabila ada sementara petinggi kita yang diharapkan untuk memberantas masalah ini juga tidak memiliki harga diri?
Ke lima factor ini tidak akan dapat diatasi hanya dengan memberikan ikan (BLT) maupun kail (program lainnya) tanpa disertai pendidikan kepada masyarakat mengenai bagaimana menjadi entrepreneur yang memiliki harga diri dan kejujuran, sehat, memiliki kemauan dan kemampuan untuk mandiri, memiliki pengetahuan mengenai cara-cara berusaha yang sehat dan etis serta perduli terhadap masyarakat dan linggungannya. Itu sebabnya para pakar di bidang pembiayaan mikro mengatakan bahwa bukan ikan maupun kail yang diperlukan untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat miskin, tetapi microfinance, yaitu yang tidak hanya menawarkan jasa keuangan (misalnya kredit) tetapi juga jasa non keuangan yaitu turut membangun komunitas dengan program-program yang bernilai tambah seperti pendampingan, pendidikan dan pelatihan serta pemberdayaan masyarakat dalam hal memperbaiki kondisi dan taraf hidup keluarga maupun lingkungannya.
Itu sebabnya, Koperasi Lima Roti Dua Ikan menciptakan program Simpanan Sejahtera yang akan membantu seorang yang miskin untuk membangun passive income dan keluar dari kemiskinannya. Tentu saja harus dilakukan dengan mengikuti sistem yang ada secara taat. Program tersebut dapat dilihat

0 komentar:

Poskan Komentar